Bukan Cuma Koreksi Luar, Tren 'Skin Longevity' Ajak Rawat Kulit Hingga Tingkat Sel


LensaNasional.id - Paradigma perawatan kulit untuk melawan penuaan kini mengalami pergeseran besar. Jika sebelumnya fokus dunia estetika mendominasi tindakan koreksi masalah di permukaan kulit seperti kerutan, flek hitam, jerawat, hingga kulit kendur kini perhatian medis mulai beralih ke konsep skin longevity, yakni menjaga kesehatan kulit secara jangka panjang hingga ke tingkat seluler.

Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika, Dr. Ruri Diah Pamela, Sp.D.V.E., FINSDV., FAADV., menjelaskan bahwa tren estetika modern telah mengalami transformasi mendasar.

"Kalau mungkin kita lihat industri estetika lebih dari 10 tahun yang lalu itu banyak membahas soal mengkoreksi. Dalam beberapa tahun terakhir terdapat shifting, jadi perubahan pemahaman bahwa ternyata tidak lagi mengkoreksi apa yang ada di permukaan luar, tapi juga harus memahami sampai unit terkecil dari manusia, yaitu sel," ujar Ruri dalam diskusi media Healthy Skin: Rewritten at The Cellular Level yang digelar PT Redo Marketing Indonesia pada Jumat, 4 September 2026.

Mitokondria sebagai 'Baterai' Sel Kulit

Dalam pendekatan skin longevity, salah satu fokus utamanya terletak pada mitokondria—organel sel yang berfungsi memproduksi energi.

Mitokondria berperan vital dalam mendukung aktivitas sel fibroblas untuk memproduksi kolagen, merregenerasi sel, serta memelihara jaringan kulit.

Seiring bertambahnya usia dan tingginya paparan sinar ultraviolet (UV), fungsi mitokondria dapat merosot dan mengganggu keseimbangan biologis sel kulit. Dr. Ruri mengibaratkan organel ini layaknya daya baterai.

"Mitokondria itu semacam baterai saja yang makin lemah. Kalau baterainya lemah, gimana kulit kita mampu produksi kolagen dengan optimal?" tegasnya.

Oleh karena itu, perawatan medis kekinian dianggap tidak cukup hanya dengan merangsang kolagen, tetapi juga wajib menjaga kesehatan kondisi sel tempat proses tersebut berlangsung.

Inovasi Terapi Cahaya Tanpa Merusak Kulit

Sebagai solusi pendukung kesehatan seluler, teknologi Photobiomodulation (PBM) kini mulai banyak dilirik.

Metode ini memanfaatkan energi cahaya dengan intensitas tertentu khususnya cahaya merah (red light) dan near-infrared untuk memicu aktivitas biologis sel dan mengoptimalkan fungsi mitokondria tanpa menimbulkan cedera fisik pada kulit.

Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika, Dr. Feilicia Henrica, Sp.D.V.E., FINSDV., menekankan keunggulan mekanisme kerja PBM jika dibandingkan dengan prosedur estetika konvensional.

"PBM ini cara kerjanya menstimulasi fungsi seluler tanpa menyebabkan kerusakan. Untuk treatment misalnya peeling atau laser itu cara kerjanya biasanya menimbulkan kerusakan terutama di lapisan epidermis. Sedangkan, PBM menstimulasi aktivitas sel yang baik, lalu meningkatkan regeneration," jelas Feilicia.

Melalui kombinasi pemahaman tingkat sel dan inovasi terapi nonsensitif seperti PBM, era baru perawatan kulit tidak lagi sekadar menutupi tanda-tanda penuaan, melainkan menutrisi kesehatan kulit dari unit paling dasar.