Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo di tengah acara peresmian LRT Jakarta Jalur Kelapa Gading–Manggarai yang berlangsung di Stasiun Manggarai, Jakarta Pusat, Rabu (16/9/2026).
“Dalam kesempatan ini, tentunya kita selalu ingat saudara-saudara kita yang mengalami musibah. Yang terakhir Kapal Virgo di Banjarmasin. Kita selalu berdoa agar keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan keteguhan,” ujar Prabowo.
Pencarian Korban dan Investigasi Terus Berjalan
Presiden menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Proses pencarian terhadap penumpang yang masih hilang terus dioptimalkan.
Di saat yang sama, tim ahli dikerahkan untuk mengusut tuntas penyebab pasti dari insiden nahas tersebut.
“Kita akan terus melakukan investigasi, meneliti apa sebab dari kejadian tersebut. Supaya di masa depan, kita lebih bisa memitigasi dan mengambil langkah-langkah yang terbaik,” tegasnya.
Selain menyoroti tragedi KM Virgo, Prabowo juga menyinggung sejumlah bencana alam yang melanda berbagai wilayah Indonesia.
Ia mengapresiasi soliditas dan kerja sama antara pemerintah pusat, daerah, hingga tingkat kabupaten yang sigap menangani berbagai situasi darurat.
Misteri Manuver Kapal dan Analisis Data AIS
Di sisi lain, penyebab karamnya kapal rute Surabaya - Banjarmasin tersebut hingga kini masih menjadi teka-teki.
Perhatian tim pencari fakta tertuju pada dugaan pola pergerakan KM Virgo Transport 8 yang sempat bermanuver memutar dan berbelok tajam ke kiri sebelum akhirnya hilang sinyal.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengonfirmasi bahwa data Automatic Identification System (AIS) kapal sedang dianalisis secara mendalam.
Kendati demikian, KNKT menekankan bahwa proses evaluasi masih berada pada tahap awal.
“Tim KNKT baru dalam fase pengumpulan data lapangan dan wawancara, belum melakukan analisis,” terang Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono.
Kronologi Hilang Sinyal
Sistem pelakatan AISITS milik Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memantau bahwa KM Virgo Transport 8 lepas sandar dari Terminal Jamrud Selatan, Surabaya, pada Sabtu (12/9/2026).
Kapal awalnya berlayar stabil pada kecepatan 12 hingga 14 knot. Namun, sinyal kapal mendadak terputus pada pukul 22.33 WIB saat bergerak di kecepatan 12,9 knot.
Peneliti ITS, Dhimas Widhi Handani, menjelaskan ada dua kemungkinan utama di balik terputusnya sinyal secara mendadak:
Kapal telah memasuki area tanpa jangkauan pemancar (blank spot).
Perangkat transponder AIS di atas kapal berhenti memancarkan sinyal.
Guna menguak tabir penyebab pasti musibah ini, kunci utama kini berada pada pengumpulan data mentah AIS serta pencarian Voyage Data Recorder (VDR)—perangkat pencatat data penerbangan/pelayaran yang berfungsi layaknya black box.(Red)
