Harga Pangan Melonjak pada Agustus 2026: Efek Domino El Niño dan MBG Mengintai Daya Beli


LensaNasional.id, -    Tekanan terhadap dompet masyarakat diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan tajam pada harga komoditas pangan per Agustus 2026, yang berpotensi terus menggerus daya beli masyarakat hingga akhir tahun.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan (month-to-month/MtM) yang naik ke angka 0,21% berbalik dari deflasi 0,14% pada bulan sebelumnya. 

Kelompok ini menyumbang andil inflasi sebesar 0,17%. Secara tahunan (year-on-year/YoY), inflasi umum terdorong naik ke level 3,19% (dibandingkan 2,88% pada Juli), di mana kelompok pangan dan tembakau menyumbang andil dominan sebesar 1,13%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan tiga pemicu utama kenaikan harga ini:

  • Lonjakan Permintaan: Lonjakan konsumsi daging ayam ras terdorong oleh peringatan Maulid Nabi, HUT ke-81 RI, serta berjalannya kembali program Makan Bergizi Gratis (MBG) pascalibur sekolah.

  • Penurunan Production Hortikultura: Hasil panen cabai rawit dan bawang merah mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya.

  • Anomali Cuaca: Rendahnya curah hujan di berbagai wilayah Indonesia akibat fenomena El Niño yang mengganggu budidaya tanaman pangan, khususnya padi.

Ancaman Inflasi Berlanjut hingga 2027

Kalangan ekonom menilai tekanan inflasi pangan (volatile food) belum akan surut. Kepala Departemen Riset Makroekonomi PT Bank Permata Tbk., Faisal Rachman, memproyeksikan inflasi umum mencapai 3,13% pada akhir 2026.

Menurutnya, kombinasi permintaan masif dari program MBG dan fenomena El Niño yang diprediksi BMKG berlangsung hingga awal 2027 menjadi dua faktor risiko utama, di samping potensi dorongan dari meningkatnya jumlah uang beredar (M2).

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menegaskan bahwa persoalan MBG bukan pada programnya, melainkan pada manajemen rantai pasok.

Yusuf mendorong pemerintah melakukan pengadaan pangan secara terencana melalui kontrak jangka menengah dengan peternak dan penggilingan daerah, bukan sekadar pembelian harian.

Di sisi teknis pertanian, penyiapan pompanisasi, irigasi, dan penyesuaian jadwal tanam harus segera dipercepat guna meredam dampak El Niño.

Menanggapi kondisi ini, Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) memperketat sinergi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi langkah antisipasi dini terhadap gangguan produksi dan distribusi pangan.

Sementara itu, Gubernur Terpilih BI, Destry Damayanti, menyoroti lonjakan inflasi volatile food dari 2,52% (YoY) pada Juli menjadi 4,06% pada Agustus 2026, serta menegaskan penguatan koordinasi TPIP dan TPID untuk menjaga stabilitas harga pangan nasional.(Red)